Sexy Red Lips an empty space for share: 2021

Mengenai Saya

Foto saya
student of state university, i like to help people and share about everything what i like, and what i knew,

Minggu, 03 Oktober 2021

 MAKALAH PSIKOLOGI AGAMA DAN KESEHATAN MENTAL  + FOOTNOTE 💯

capek ya ngetik dan cari buku mondar mandir di perpustakaan.. tapi aku mau sharing makalah yang udah aku buat dengan susah payah.. ada footenote nya lagiiiii hahaha

silahkan copy paste lalu print dan bagikan ke teman-teman kalian untuk presentasi HAHAHAHA *licik sekali yah.. atau jadikan makalah ini sebagai pembanding atau referensi saja, untuk cek footnote/sumber buku yang diambil adalah dari perpustakaan di kampus. mau mengikuti blog ini ? silahkan :p jangan lupa comment yah!

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Kalau kita memperhatikan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari maka banyak hal yang kita lihat. Ada orang yang kelihatannya gembira, bahagia, dapat bergaul dengan sesame walaupun ia mengalami bermacam-macam kesulitan. Sebaliknya ada juga orang yang sering mengeluh dan bersedih hati, tidak bersemangat serta tidak dapat memikul tanggung jawab. Hidupnya dipenuhi kegelisahan, kecemasan dan ketidakpuasan, dan mudah diserang oelh penyakit-penyakit yang yang jarang dapat diobati. Mereka tidak pernah merasakan kebahagiaan. Disamping itu ada orang yang dalam kehidupannya mengganggu, melanggar hak dan ketenangan orang lain, suka mengadu domba, memfitnah, menyeleweng, menganiaya, menipu dan sebagainya.

Simtom-simtom yang berbeda itulah yang menyebabkan para psikolog berusaha menyelidiki apakah yang menyebabkan tingkah laku berbeda-beda walaupun orang-orang berada dalam kondisi yang sama. Juga apa sebabnya ada orang yang tidak mampu mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Usaha ini merupakan wewenang dari salah satu cabang termuda psikologi, yaitu kesehatan mental (mental hygiene) yang tumbuh pada akhir abad ke 19 M. Ilmu kesehatan mental berkembang luas di negara-negara yang telah maju terutama dalam tahun-tahun belakangan ini, bahkan sudah sampai ke taraf preventif, yaitu mencari jalan pencegahan supaya orang jangan mengalami gangguan mental. Di negara kita rupanya ilmu kesehatan mental belum begitu dikenal secara luas, dan walaupun kadang-kadang dipakai istilah “kesehatan mental”, namun artinya sangat kabur dan kurang jelas dalam pikiran orang pada umumnya.

B.    Rumusan Masalah

1.     Apa pengertian dari kesehatan mental ?

2.     Apa peranan agama dalam kesehatan mental ?

3.     Bagaimana pengaruh kesehatan mental terhadap manusia ?

4.     Apa saja gangguan dan penyakit  jiwa manusia ?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kesehatan mental

Ilmu kesehatan mental merupakan terjemahan dari istilah mental hygiene. Etimologis dari mental hygiene berasal dari kata mental dan hygiene. Mental (dari kata latin: mens, mentis) berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat, sedangkan hygiene (dari kata Yunani: hugiene) berarti ilmu tentang kesehatan.[1]

Ada beberapa ahli mengemukakan definisi tentang kesehatan mental, yaitu sebagai berikut :

1.     Alexander Scheneiders

Kesehatan mental adalah ilmu yang mengembangkan dan menerapkan seperangkat prinsip yang praktis dan bertujuan untuk mencapai dan memelihara kesejahteraan psikologi organisme manusia dan mencegah gangguan mental serta ketidakmampuan mnyesuaikan diri.

2.     Louis P. Thorpe

Kesehatan mental adalah tahap psikologi yang bertujuan untuk mencapai dan memelihara kesehatan mental

3.     Pakar dari Timur-Tengah

a.      Bebasnya seseorang dari gejala penyakit jiwa dan gangguan jiwa

b.     Kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan masyarakat lingkungannya, sehingga hidup penuh vitalitas sunyi dari goncangan.

4.     Saparinah Sadli

Kesehatan mental terbagi menjadi tiga orientasi yaitu orientasi klasik, orientasi, penyesuaian diri dan orientasi pengembangan potensi. Ketiga orientasi ini dapat dijadikan ukuran kesehatan mental manusia.

Dari definisi-definisi tersebut diatas dapat diketahui bahwa batasan pengertian kesehatan mental yang dikemukakan oleh para pakar tersebut tercakup luas, tetapi sungguhpun demikian pengertian yang dikemukakan oleh para pakar tersebut belum tercakup seluruh aspek kehidupan karena agama belum termasuk didalamnya.

Zakiah Daradjat mengemukakan empat buah rumusan kesehatan mental yang biasanya dipakai oleh para ahli kesehatan mental. Ke-empat rumusan itu disusun mulai dari rumusan-rumusan khusus sampai dengan yang lebih umum kemudian ditambah satu rumusan lagi yaitu agama termasuk didalamnya, sehingga menjadi lima rumusan hingga akhirnya pengertian kesehatan mental tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Jelasnya rumusan yang kelima itu pada hakekatnya telah menggambarkan rumusan-rumusan sebelumnya.

Jelasnya pengertian kesehatan mental yang dirumuskan oleh Zakiah Daradjat yakni:

1.     Kesehatan mental adalah terhindarnya manusia dari gangguan jiwa dan dari gejala-gejala penyakit jiwa

2.     Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan tempat ia hidup

3.     Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta terhindarnya dari gangguan dan penyakit jiwa.

4.     Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problema-problema yang biasa terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaaan dan kemampuan dirinya

5.     Kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antar manusia dengan dirinya dan lingkungannya, berdasarkan keimanan dan ketakwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna di dunia dan di akhirat.

Aspek agama dalam perumusan kesehatan mental harus masuk, karena agama memiliki peranan yang besar dalam kehidupan manusia. Agama merupakan kebutuhan psikis manusia yang perlu dipenuhi setiap orang yang mengharapkan ketentraman dan kebahagiaan.[2]

 

B.    Peranan agama dalam Kesehatan Mental

Dalam kehidupan ini dapat disaksikan betapa besar perbedaan antara orang beriman yang hidup menjalankan agamanya dengan orang yang tidak beragama atau acuh tak acuh kepada agamanya. Pada diri orang yang hidup beragama terlihat ketentraman batin, sikapnya selalu tenang. Mereka tidak merasa gelisah atau cemas, perbuatannya tidak ada yang menyengsarakan atau menyusahkan orang. Berbeda dengan orang yang terlepas dari ikatan agama, biasanya mereka mudah terganggu oleh kegoncangan suasana. Dalam keadaan senang dimana segala sesuatu berjalan lancar dan menguntungkannya, seseorang yang tidak beragama akan terlihat gembira, senang bahkan lupa daratan. Tetapi apabila ada bahaya yang mengancamnya : kehidupan susah, banyak problema yang harus dihadapinya, maka kepanikan dan kebingungan akan menguasai jiwanya, bahkan akan memuncak sampai terganggu kesehatan jiwanya, bahkan mungkin sampai pada taraf bunuh diri atau membunuh orang lain.[3]

Tampak jelaslah bagi ahli psikologi bahwa sebagian besar gangguan jiwa dan penyakit jiwa ditemukan pada orang-orang yang tak beragama. Orang-orang yang beragama bergantung pada seberapa jauh ketetapan hatinya kepada agamanya, sering terlindungi dri gangguan dan penyakit jiwa.

Akhirnya dapat digambarkan secara ideal bahwa manusia yang sehat mentalnya adalah manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan merealisasikan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupannya, sehingga kehidupan ini dijalani sesuai dengan tuntunan agama.

Menjauhkan diri dari Sang Pencipta berarti mengosongkan diri dari nilai-nilai imani. Sungguh merupakan kerugian terbesar bagi manusia selaku makhluk berdimensi spiritual. “Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadti tentram.” (QS 13:28)[4]

Tegasnya kesehatan mental itu dalam Islam identik dengan ibadah atau pengembangan potensi diri yang dimiliki manusia dalam rangka pengabdian kepada Allah dan agama-Nya untuk mendapatkan jiwa yang tenang dan bahagia dengan kesempurnaan iman dalam hidup, seperti yang dimaksud dalam firman Allah SWT :

$pkçJ­ƒr'¯»tƒ ߧøÿ¨Z9$# èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$# ÇËÐÈ   ûÓÉëÅ_ö$# 4n<Î) Å7În/u ZpuŠÅÊ#u Zp¨ŠÅÊó£D ÇËÑÈ  

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.(QS. Al-Fajr: 27-28)

C.    Pengaruh Kesehatan Mental terhadap manusia

Pada dasarnya keadaan yang tidak menyenangkan selalu dihadapi setiap manusia dari tingkatan dan golongan manapun dan pengaruhnya terhadap manusia tergantung pada cara individu atau orang tersebut menghadapinya. Ada yang dapat menerima dan mampu mengatasi serta menyesuaikan diri dengan wajar, tetapi ada yang sebaliknya.

Berarti yang dapat membantu terwujudnya ketenangan dan kebahagiaan hidup manusia adalah kesehatan mental. Karena dengan kesehatan mental itu dapat menentukan tanggapan seseorang terhadap suatu masalah dan kemampuan menyesuaikan diri untuk menghadapinya dengan sewajarnya.

Manusia yang tidak sehat mentalnya terdapat perbedaan dalam gangguan yang dialaminya ada yang terpengaruh hanya pada satu unsur saja atau dua unsur saja atau mungkin sampai tiga atau empat unsur dialaminya, tergantung dari kondisi dan daya tahan manusia secara fisik dan psikisnya serta yang terpenting adalah keimanan dan ketakwaannya.

1.     Pengaruh kesehatan mental terhadap perasaan

Perasaan tidak menyenangkan dan tidak mengenakan hati, timbul pada manusia yang merupakan reaksi psikis karena tidak mampunya manusia menghadapi problema-problema kehidupan akhirnya timbulah reaksi psikis antara lain seperti perasaan : cemas, gelisah, takut, putus asa dan lain-lain.

2.     Pengaruh kesehatan mental terhadap pikiran atau kecerdasan

Pikiran ialah kemampuan manusia untuk menggunakan pikiran dan kecerdasan dengan baik, tetapi bila manusia mengalami ketegangan emosi maka manusia tidak mampu menggunakan daya fikirnya dengan sebaik-baiknya.  

3.     Pengaruh kesehatan mental terhadap perbuatan atau kelakuan

Perbuatan atau kelakuan ialah tindakan yang dilakukan manusia yang bersifat baik (positif) maupun yang bersifat buruk (negatif). Manusia yang terganggu kesehatan mentalnya adalah manusia yang mempunyai akhlak yang tidak terpuji seperti bakhil, aniaya, memfitnah, menipu, mencuri dan lain-lain. Keadaan manusia yang tidak mampu mengendalikan diri tersebut didasari dengan dua faktor utama yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

4.     Pengaruh kesehatan mental terhadap kesehatan badan

Pada akhir-akhir ini banyak terdapat penyakit yang dinamakan psychosomatic yaitu kesehatan mental dapat menentukan kesehatan mental. Istilah kedokteran ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan erat antara jiwa (psyche) dan badan (soma). Jika jiwa berada dalam kondisi kurang normal antara lain seperti cemas, gelisah, takut, putus asa dan lain-lain maka badan atau tubuh turut menderita yaitu dengan terjadinya gangguan pada organ-organ tubuh seperti gangguan pada jantung, pernafasan, lambung, kadar gula, tekanan darah rendah dan lain-lain. Begitu pula sebaliknya bila jiwa berada dalam kondisi normal maka badan juga sehat.[5]

D.    Gangguan Jiwa

1.     Psikopat

Psikopat adalah kelainan tingkah laku, khususnya berbentuk kelainan tingkah laku sosial, yaitu tidak memperdulikan norma-norma sosial atau adaptasinya dengan lingkungan sosial kurang tepat atau tidak normal. Penderita psikopat cenderung egocentris, penderita psikopat seolah-olah tidak mempunyai hati nurani, karena ia berbuat semaunya tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Penderita psikopat biasanya tidak merasakan sendiri penyakitnya, mereka tidak merasa adanya kelainan dalam diriny, dan kelainan itu sangat sukar sekali dihilangkan seumur hidupnya.

2.     Neurosis

Neurosis adalah gangguan jiwa yang penderitanya masih dalam keadaan sadar. Istilah Neurosis pada awalnya kata tersebut berarti ketidakberesan dalam susunan syaraf, tapi juga dipengaruhi oleh sikap seseorang terhadap orang lain.[6]

a.      Neurasthenia

Yaitu gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya kelelahan fisik dan mental yang kronis walaupun tidak ditemukan sebab-sebab fisik.

b.     Histeria

Yaitu terjadi akibat tidak mampunya seseorang dalam menghadapi kesukaran-kesukaran, tekanan perasaan, kegelisahan, kecemasan dan pertentangan batin.

Gejala-gejala Histeria terbagi menjadi 3 macam:

a)     Lumpuh histeria

Yaitu kelumpuhan salah satu anggota fisik. Penyebab dari histeria ini adalah adanya tekanan pertentangan batin yang tidak dapat diatasi.

b)     Cramp Hysteria

Yaitu cramp yang terjadi pada sebagian anggota fisik.

c)     Kejang Histeria

Yaitu badan seluruhnya menjadi kaku, tidak sadar akan diri, kadang-kadang sangat keras disertai dengan teriakan-teriakan dan keluhan-keluhan tetapi air mata tidak dapat keluar.

d)     Mustism ada dua macam

Yaitu tidak sanggup berbicara dengan suara keras dan kedua, tidak dapat berbicara sama sekali, penyebabnya bukan disebabkan oleh kerusakan alat-alat percakapan seperti lidah, kerongkongan, pernapasan, tetapi disebabkan tekanan perasaan, kecemasan, putus asa, merasa hina, gagal.

e)     Amnesia

Yaitu hilang ingatan secara sempurna, lupa segala sesuatu tentang dirinya, namanya, alamatnya, dan dari mana ia dating, saudara-saudaranya atau tidak ingat peristiwa-peristiwa tertentu yang berhubungan dengan hidupnya. Ia lupa akan segala sesuatu, akan semua orang yang pernah dikenalnya, bahkan lupa akan dirinya, rumahnya, pekerjaannya dan sebagainya.

f)      Fugue

Yaitu orang pergi mengelana berjalan tanpa tujuan, tidak tahu mengapa ia pergi dan kemana ia pergi.

g)     Somnambulism

Yaitu berjalan-jalan sedang tidur. Mesikpun ia tidur, ia masih mampu berjln dan dapat membedakan pintu yang terbuka dan pintu yang tertutup, bahkan ia dapat disrukan untuk tidur kembali. Waktu bangun pagi harinya, ia tidak mengetahui apa yang diperbuatnya sewaktu ia tidur.[7]

h)     Double personality

Yaitu terpisahnya secara sempurna antara berbagai fungsi yang bermacam-macam yaitu semua aspek kehidupan yang mencakup perasan, tindakan, pengalaman-pengalaman dan seluruh kepribadian lama terpisah dari kesadarannya, yang berarti bahwa apabila satu kepribadiannya muncul maka yang lainnya menghilang. Dan kepribadian yang muncul itu berbeda sama sekali dari pribadi yang lain, artinya bahwa masing-masing pribadi tidak mengenal satu sama lain.

c.      Psychasthenia

Gangguan jiwa yang bersifat paksaan, yang berarti kurangnya kemampuan jiwa untuk tetap dalam keadaan integrasi yang normal.

Gejala-gejala penyakit ini antara lain:

a)     Phobia

Yaitu rasa takut yang tidak masuk akal atau yang ditakuti tidak seimbang dengan ketakutannya. Penderita tidak mengetahui sebabnya dan tidak dapat melepaskan diri daripadanya atau tidak sanggup menguasainya. Diantara phobia yang terkenal antara lain ialah : takut tempat tertutup, melihat darah, kotor, di tengah orang ramai, binatang-binatang kecil.

b)     Obsesi

Yaitu penderita dikuasai oleh suatu pikiran tertentu yang tidak bisa dihindarinya.

c)     Kompulsi

Yaitu gangguan jiwa yang menyebabkan seseorang terpaksa melakukan sesuatu, baik itu masuk akal maupun tidak. Penyebabnya yaitu kegelisahan dan kecemasan.

d)     Stuttering

Gagap berbicara ada yang dalam bentuk terputus-putus, tertahan nafas atau berulang-ulang. Penyebabnya apabila tidak ada gangguan fisik timbulnya akibatnya pertentangna batin, tekanan perasaan dan ketidak mampuan menyesuaikan diri.

e)     Ngompol

Uang air yang tidak disadari yang terjadi pada anak yang sudah besar yang seharusnya sudah mampu menguasai dan mengatur dirinya.

 

3.     Psikosis (Psychose)

Gangguan jiwa yang bersifat menyeluruh yaitu meliputi selurh kepribadian penderita, sehingga kehilangan orientasi terhadap lingkungannya, bahkan penderita tidak dapat memahami tingkah lakunya sendiri (terjadi disorganisasi pikiran, gangguan dalam emosionalitas, disorientasi waktu, ruang dan orang). Merupakan penyakit jiwa yang parah, gejala seperti ini sering kita sebut sebagai hilang ingatan atau gila.

Terdapat beberapa bentuk psikosis, diantaranya:

a.      Schizophrenia

Adalah penyakit jiwa yang paling banyak terjadi dibandingkan dengan penyakit jiwa lainnya. Penderitanya tidak mampu menilai realitas dengan baik dan pemahaman diri yang buruk. Penyakit ini menyebabkan kemunduran kepribadian pada umumnya yang biasaya mlai tampak pada masa puber, dan paling banyak menderita adalah orang berumur antara 15 sampai 30 tahun.[8]

Bentuk-bentuk schizophrenia antara lain:

a)     Simple Schizophrenia

b)     Adolescen Schizophrenia

c)     Catatonic schizophrenia

d)     Pseudoneurotic Schizophrenia

b.     Paranoia

Ialah gangguan jiwa yang sangat serius, adanya kecurigaan yang tak beralasan yang terus menerus yang pada puncaknya dapat menjadi tingkah laku agresif.[9]

c.      Maniac Depressive Psychosis

Yaitu penyakit yang penderitanya merasa benar atau gembira yang kemudian berubah menjadi serba salah dan sedih atau tertekan.

 



[1] Heny Narendrany Hidayati dan Andri Yudiantoro, Psikologi Agama, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007), hal.148

[2] Heny Narendrany Hidayati dan Andri Yudiantoro, Psikologi Agama, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007), hal.150-151

[3] Heny Narendrany Hidayati dan Andri Yudiantoro, Psikologi Agama, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007), hal.186

[4] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hal.176

[5] Heny Narendrany Hidayati dan Andri Yudiantoro, Psikologi Agama, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007), hal.153-156

[6] Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hal.153

[7] Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hal.156

[8] Heny Narendrany Hidayati dan Andri Yudiantoro, Psikologi Agama, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007), hal.170

 

[9] Heny Narendrany Hidayati dan Andri Yudiantoro, Psikologi Agama, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007), hal.173