Sexy Red Lips an empty space for share: Makalah Kapita Selekta: Kebijakan Pembiayaan Pendidikan

Mengenai Saya

Foto saya
student of state university, i like to help people and share about everything what i like, and what i knew,

Sabtu, 22 Juni 2013

Makalah Kapita Selekta: Kebijakan Pembiayaan Pendidikan


PEMBAHASAN
(Kebijakan Pembiayaan Pendidikan)

A.    Kebijakan Pembiayaan Pendidikan
Pembiayaan pendidikan bertitik tolak pada prinsip-pinsip ekonomi, sehingga sebagian besar analisis ekonomi baik mikro maupun makro dapat digunakan untuk menganalisis masalah-masalah pendidikan. Menurut Psacharopoulus menegaskan lebih jauh bahwa kupasan ekonomi pendidikan berorientasi kepada peran pendidikan dalam pembangunan ekonomi, sedangkan perannya yang kedua ekonomi pendidikan mempunyai cakupan pembahasan yang lebih luas, menjangkau semua analisis ekonomi yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan.
Konsep Human Capital menurut Psacharopoulus (1987) berkaitan dengan fakta bahwa pada dasarnya manusia akan menanamkan investasi dalam dirinya melalui pendidikan, pelatihan dan aktivitas lain yang akan meningkatkan “life time earnings”. Pembentukan human capital melalui pendidikan kemudian merupakan agenda dari para ahli ekonomi untuk melakukan penelitian, karena disadari bahwa dampak dari pendidikan terhadap ekonomi sangatlah besar dalam konsep human capital, pendidikan yang lebih tinggi menurut Becker (1993) akan menimbulkan produktifitas yang lebih tinggi pula, asumsi ini salah satu aspek penting dalam pengembangan SDM melalui pendidikan dan latihan sehingga dapat meningkatkan ketrampilan dan produktifitas kerja. Produktifitas pendidikan sebagai hasil proses manajemen yang memiliki fungsi produksi menunjukkan kinerja pendidikan khususnya kinerja sekolah tampak pada output manajemen dalam bentuk pelayanan maupun lulusan, karenanya fungsi produksi pendidikan merupakan hal yang penting untuk memastikan investasi pendidikan memberi keuntungan. Walaupun perbedaan tingkat pendapatan tidak berhenti pada tingkat pendidikan saja tetapi juga harus didukung pengalaman kerja, skills, sector usaha, jenis usaha, lokasi dan lain sebagainya. Pisikal input sekolah terdiri dari karakteristik gedung, ketersediaan fasilitas belajar di kelas dan di sekolah, kuantitas dan kualitas peralatan yang tersedia, strategi dan program pengajaran, alat bantu mengajar pada tiap-tiap mata pelajaran, fasilitas dan kelengkapan ruang kelas dan kantor, fasilitas fisik dan pendukung lainnya. human input yang membutuhkan biaya operasional terdiri dari administrator dan pejabat structural sekolah, secretariat, pelayanan administrative, staf pembantu, guru profesional, supervisor, ahli kurikulum dan pengajaran, dan koneslor. Sedangkan input non sekolah dapat mendukung keberhasilan output siswa seperti kawan sebaya, minat, bakat, jenis kelamin, keluarga, status orang tua, ras, status social ekonomi, dan sebagainya. Untuk mengetahui bagaimana dana pendidikan dapat direduksi bahwa sistem penganggaran pendidikan pada pemerintahan kabupaten/kota dideskripsikan pada gambar 1.1 Mekanisme penentuan anggaran pendidikan dimulai dari musyawarah pembangunan desa (Musbangdes) yang didalamnya sudah termasuk dibahas di sekolah yang berada di desa tersebut.
Tetapi dilain pihak sekolah juga mengajukan anggaran sekolah yang direbut dengan rencana anggaran belanja sekolah (RAPBS) yang diajukan kepada Dinas Pendidikan setempat. Selanjutnya hasil Musbangdes digabungkan di kecamatan sehingga oleh pihak camat diidentifikasi dan diolah menjadi usulan daftar kegiatan pembangunan  (UDKP) pada tingkat kecamatan yang didalamnya sudah termasuk program dinas yang berada di Kecamatan. UDKP dari kecamatan bersama dengan usulan dinas teknis di daerah diserahkan kepada Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPEDA). Dinas teknis di kecamatan antara lain adalah cabang dinas pendidikan kecamatan.[1]

a.      Kebutuhan Operasional Sekolah
Alokasi kebutuhan sekolah seperti keperluan operasional pengajaran, operasional administrasi dan perkantoran, operasional laboratorium, operasional perpustakaan, perawatan dan pemeliharaan, penggantian barang-barang keperluan mendesak, kebersihan dan kesehatan dapat diidentifikasikan oleh kepala sekolah bersama masyarakat dan pemerintah mencari solusi untuk memenuhi keperluan tersebut. Mengharapkan manajemen sekolah yang baik dan berkualitas tentu harus didukung ketersediaan pembiayaan untuk keperluan tersebut lalu yang dapat melakukan investasi dalam jumlah yang besar adalah pemerintah daerah melalui APBD, pemerintah pusat melalui dana perimbangan (APBN), dan bantuan masyarakat luas. Untuk menegosiasi alokasi dana sesuai keperluan baik kepada pemerintah maupun masyarakat peran kepala sekolah akan member andil yang signifikan.
Sekolah sebagai institusi pemakai anggaran tidak dijelaskan kewenangan pengelolaan baik dalam institusi sekolah (manajemen) maupun dalam konteks kegiatan pembelajaran. Untuk memenuhi efektifitas pencapaian tujuan pada tingkat sekolah, tentu diperlukan batas-batas yang memungkinkan bagi institusi satuan pendidikan dalam pengelolaan anggaran khususnya yang bersumber dari APBN maupun APBD provinsi dan kabupaten/kota dimana satuan pendidikan ituberada. Setelah perubahan system sentralistik menjadi desentralisasi dalam pemerintahan Indonesia diharapkan akan terjadi perubahan mendasar, yang tadinya kepala sekolah tidak punya kreatifitas, sekarang oleh peraturan dengan model pemberdayaan sekolah telah dibuka peluang untuk berkreasi bahkan pada tingkat tinggi.
b.      Kebutuhan Siswa
Untuk memperlancar belajar siswa adalah dengan memenuhi kebutuhan belajarnya. Ada kebutuhan siswa yang dapat disediakan oleh orang tua tetapi ada juga yang harus disediakan oleh sekolah. Hal yang perlu disediakan oleh orang tua tetapi ada juga yang harus disediakan oleh sekolah. Hal yang perlu disediakan oleh sekolah untuk memenuhi kebutuhan siswa di sekolah antara lainadalah buku pelajaran, alat-alat olah raga, ruangan belajar yang bersih dan sehat, perpustakaan yang memadai, laboratorium yang fungsional, sarana bermain yang memadai, alat kesenian yang sesuai kebutuhan dan semacamnya. Untuk memenuhi criteria dan kebutuhan siswa memang mahal, karena diperlukan biaya dan SDM yang mngurusnya. Karena factor mutu merupakan factor utama dalam menentukan perbedaan antara masyarakat terbelakang dan masyarakat maju, maka investasi untuk keperluan pendidikan dan sekolah amat diperlukan sebagai prioritas, karenanyakepala sekolah harus dapat menghitung tiap item kebutuhan dan mengalokasikan anggarannya, kemudian mengatur strategi untuk pemenuhannya.
c.       Pendayagunaan Sumber Pembiayaan
Meningkatnya angka pengangguran karena tenaga terampil berkurang. Kesenjangan mendapatkan kesempatan pendidikan antara kaya miskin semakin tajam, rendahnya minat terhadap profesi pendidikan, dan merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Berkaitan dengan hal itu, UUSPN No. 20 Tahun 2003 mengemukakan bahwa pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat. Kebutuhan akan biaya dalam penyelenggaraan pendidikan, merupakan unsure mutlak yang harus tersedia makanya, perlu dilakukan perencanaan biaya, analisis biaya, serta alokasi biaya penyelenggaraan pendidikan. Biaya yang harus dikeluarkan dalam penyelanggaraan pendidikan meliputi biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (Indirect cost) perhitungan biaya pendidikan ditentukan oleh komponen kegiatan dan biaya satuan meliputi gaji guru (seperti gaji pokok, tunjangan fungsional, insentif, honorarium menguji dan membuat soal, dan penghasilan lainnya yang sah). Sarana dan prasarana (seperti ruang belajar, laboratorium, perpustakaan, kantor, tempat ibadah dan lain sebagainya), pembiayaan mencakup pengadaan dan pemeliharaan. Secara umum pengeluaran biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah, perseorangan, lembaga di masyarakat, dan bantuan luar negeri.
d.      Prioritas Pembiayaan
Setiap sekolah memiliki prioritas yang berbeda antara satu dngan lainnya, mungkin ada yang memprioritaskan pengadaan buku teks sedangkan yang lainnya penyediaan alat peraga atau media pengajaran dan sebagainya. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan akan menggunakan daya kreasi dan inovasi yang optimal untuk memenuhi kebutuhan sekolah dari waktu ke waktu. Menata ruang kelas untuk kenyamanan belajar dan mengajar, menata halaman sekolah yang asri dan sejuk, menata ruang parker yang aman dan rapi, menata toilet yang nyaman dan sehat untuk dipakai, menata ruang perpustakaan yang nyaman untuk membaca, menata laboratorium yang menyenangkan dan penataan lainnya yang mendukung aktifitas belajar dan mengajar.
Beberapa halyang harus diperhatikan dalam membangun sector pendidikan yaitu tujuan pendidikan yang kan dicapai, prioritas program pembangunan pendidikan yang menekankan pada aspek kualitas dan kuantitas, upaya meningkatkan pemerataan kesempatan pendidikan, biaya yang dibutuhkan dan alokasi sumberdaya dan dana yang akan digunakan untuk penyelenggaraan pendidikan. Aspek kualitas dalam pelayanan belajar dan lulusan merupakan tujuan yang akan dicapai dalam proses belajar mengajar di sekolah.


B.     Menghemat Biaya Pendidikan
Pendidikan yang murah dan berkualitas merupakan salah satu tuntutan reformasi yang harus diwujudkan dalam bidang pendidikan. Namun demikian, pendidikan yang berkualitas akan senantiasa membutuhkan biaya cukup banyak. Dengan demikian,permasalahannya adalah bagaimana kita dapat menghemat biaya pendidikan di sekolah, agar dengan biaya yang ada dapat melaksanakan kegiatan pendidikan yang berkualitas secara optimal serta dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Hali ini perlu dilakukan sejalan dengan kondisi krisis yang sudah berjalan tujuh tahun, sehingga masalah biaya termasuk biaya pendidikan seringkali terjadi pengangguran; meskipun pemerintah sudah memprogramkan biaya pendidikan 20% dari APBN.[2]
















DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa. 2006. Implementasi Kurikulum 2004 panduan pembelajaran KBK, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sagala, Syaiful. 2012. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: CV.Alfabeta.






[1] Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, (Bandung: cv Alfabeta, 2006) hal.135
[2] Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006) hal.210

Tidak ada komentar:

Posting Komentar